Postingan

IBADAH QURBAN; MEWARISI KETAATAN NABI IBRAHIM AS

Gambar
Ha ri Raya ‘Idul Adha 1433 H akan segera tiba. Hari itu membuat kita mengenang perjuangan Nabi Ibrahim AS. Beliau mengalami berbagai ujian keimanan yang sangat berat. Beliau tak gentar menghadapi Raja arogan bernama Namrud dan pengikutnya yang mengabdi kepada selain Allah SWT. Beliau diancam oleh penguasa itu akan dibakar hidup-hidup. Sampai kayu-kayu bakar telah bertumpuk dan mengitari beliau, lalu bara api itu telah dinyalakan, keimanannya tak goyah sedikit pun. Gejolak api yang membara itu tidak dapat membakar kulit sang kekasih Allah itu. Sebaliknya, api itu ditundukkan oleh Allah SWT menjadi dingin tak terasa panas sedikit pun. Ujian berat selanjutnya adalah ketika beliau diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan anak kesayangannya sendiri, yaitu Nabi Ismail AS. Karena kadar keimanan yang teguh dan begitu kuat, beliau ikhlaskan anaknya itu. Rasa cintaNya kepada Allah SWT melebihi apapun, bahkan melebihi kasih sayang kepada anak kandungnya sendiri. Kisah indah ini diabadika...

‘THE GRAND DAME’ DARI BUMI ACEH

Gambar
Malam itu begitu hening. Mayat-mayat bergelimpangan di bumi Kesultanan Aceh. Bau anyir pun tercium sangat menyengat. Sejenak Laksamana Malahayati menatap wajah suaminya untuk yang terakhir kalinya. Ada senyum tipis di bibirnya. Dia mengusap goresan-goresan luka di pipi suaminya itu. Matanya sembab. Berkaca-kaca memilukan. Dendam kesumat bergemuruh hebat di dadanya. Sementara para wanita lainnya berlarian untuk mencari jasad suami masing-masing. Seketika suara tangisan pun memecah kesunyian. Memekik keras hingga mengangkasa. Malahayati terduduk lemas. Kepalanya tertunduk penuh kesedihan. Bulir air bening menetes pelan hingga jatuh di atas kening mayat suaminya itu. Air mata itu telah bercampur dengan lumuran darah. Ini adalah saatnya pembalasan.” Gumam Malahayati dari sanubarinya yang terdalam. Perlahan ia angkat kepalanya. Ia pun berdiri tegap lalu berteriak, “Hey, para Inong Balee. Malam ini menangislah sejadi-jadinya. Esok, penjajah kape itu kita hancurkan sehancur-hancurnya...

Mutiara dari Nusa Laut (Jejak Juang Martha Christina Tiahahu)

Gambar
Jejak-jejak telapak kaki itu membekas di pesisir pantai Nusa Laut Maluku. Seorang anak perempuan tengah berlari dengan riang gembira. Rambutnya terurai panjang dengan ikat merah di kepalanya. Namanya Martha Christina Tiahahu. Senyum mengembang di bibirnya. Dia berlari semakin mendekat lalu berhasil memeluk sang ayah, Kapitan Paulus Tiahahu, yang baru saja kembali dari perjalanannya. Dia sangat senang dan bangga mempunyai ayah sepertinya, seorang pejuang tangguh yang gagah berani dalam melawan kekejaman kolonial Belanda pada tahun 1800-an. Martha Christina diasuh, dididik, dan dibesarkan oleh sang ayah secara langsung karena memang ibunya meninggal dunia semenjak dia masih belia. Darah perjuangan dan keberanian sang ayah mengalir deras ke sanubarinya. Kebenciannya terhadap kesewenang-wenangan penjajah Belanda menorehkan goresan luka mendalam pada dirinya. Apalagi sudah ribuan saudaranya menjadi korban kekejaman dan kerakusan bangsa dari Eropa itu.

SANG PROVOKATOR KEKERASAN

Gambar
Kalangan liberal konon sangat membenci tindak kekerasan, namun anehnya mereka terus menerus memancing provokasi umat Islam agar melakukan kekerasan. Terakhir, mereka menghadirkan seorang feminis-lesbian asal kanada bernama Irshad Manji. Ia diagendakan akan mengisi sejumlah acara forum diskusi di berbagai kota Indonesia. Rangkaian roadshow Irshad Manji diawali di Gedung Salihara dengan disponsori penuh oleh para aktifis liberal, di antaranya Goenawan Muhammad, Ulil Absar Abdalla, Guntur Romli, dan lainnya. Namun baru berjalan beberapa saat saja, acara tersebut terpaksa dibubarkan warga setempat. Warga mengaku merasa teraganggu karena paham lesbian yang dibawa Irshad Manji sangat bertentangan dengan norma-norma masyarakat dan agama.

CUT NYAK DIEN; YOU’RE NEVER DIE

Gambar
Suatu malam di bumi Aceh Darussalam, langit terlihat semakin menghitam. Awan tebal menghijab cahaya bulan dan bintang. Sungguh pekat dan gelap. Sesekali terdengar gelegar halilintar mengancam alam semesta. Percikan kilatnya seakan membelah langit-langit angkasa. Lolongan serigala pun terdengar bersahut-sahutan dan mengerikan. Cut Nyak Dien dan pejuang perempuan lainnya berada di tenda-tenda kecil di tengah hutan belantara. Mereka ditemani temaram lampu yang sayup-sayup memberi penerangan. Sebagian orang lagi berada di luar tenda, mereka tengah berupaya menghentak-hentakkan batu agar bisa menghasilkan api untuk memasak. “Bagaimana, apakah sudah berhasil?” Tanya Cut Nyak Dien dari dalam tenda kepada rekannya yang berada di luar. “Apinya belum menyala, bersabar sejenak ya.” Sahut seorang perempuan. Ketahuilah, di tengah belantara itu, mereka bukan sedang ber- camping , apalagi bersenang-senang. Cut Nyak Dien dan pejuang perempuan lainnya tengah berada dalam pelarian atas ke...

MENGUNGKAP SISI LAIN RA KARTINI

Gambar
Indonesia adalah negeri mayoritas Muslim. Namun nyatanya, sejarah umat Islam di negeri ini dikebiri. Salah satunya adalah upaya deislamisasi sejarah perjuangan wanita Indonesia. Padahal Indonesia memiliki segudang tokoh pahlawan wanita dari Sabang sampai Merauke. Di antaranya Martha Christina Tiahahu yang gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku, untuk mengusir pendudukan pasukan Kape (Belanda). Kodratnya sebagai perempuan tidak menyurutkan semangat juang dalam melawan tentara Kolonial meskipun dilengkapi persenjataan canggih. Namun apa yang kita ketahui saat ini tentang Martha Christina Tiahahu, sangat mungkin generasi sekarang tidak banyak yang mengenal kepahlawanannya.   Ada perempuan perkasa dari timur, Herlina Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda. Semestinya nama Herlina familiar dengan generasi kita apalagi mereka yang duduk di bangku pendidikan, kurikulum sej...

THE KING OF CARUBAN (Part 2; Perjalanan ke Mekkah Al Mukarramah)

Gambar
Hari sudah gelap gulita. Di dalam sebuah rumah gubug, Syekh Datuk Kahfi dan Raden Walangsungsang atau Somadullah duduk bersila berhadap-hadapan. Di sampingnya ada lampu tempel yang sayup-sayup memberi penerangan. Mereka nampak berbincang serius satu sama lain. Somadullah tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini. Ia menanyakan berbagai hal kepada gurunya itu, terutama sekali tentang agama Islam. Syekh Datuk Kahfi menerangkan tentang pentingnya ketauhidan kepada Allah SWT. Karena tauhid adalah inti dari ajaran Islam. “Somadullah, jika engkau kehilangan tauhid maka engkau juga akan kehilangan Islam.” Jelas sang guru. “ Sandika , guru.” Jawab Somadullah penuh ta’dzim. “Muridku, engkau sudah banyak belajar Islam di sini. Saat ini, ku izinkan engkau untuk melakukan babakyasa , membangun sebuah dukuh di hutan.” “ Inggih  guru.”